Financial Freedom dalam Pandangan Islam

Saat ini sangat ramai orang berlomba lomba, bekerja, berusaha, berbisnis, dalam masing masing bidangnya, dengan menghabiskan waktu, tenaga, dan fikiran salah satu nya untuk tujuan financial freedom.

images

Kalimat “financial freedom” tengah ramai di gandrungi banyak orang, terutaa di dunia finacial planner, dunia bisnis, dunia bisnis multilevel, dan sebagainya.

Lalu apakah definisi financial freedom ini?. Sebenarnya tidak ada definisi yang baku dalam kalimat ini. Dikutip dari www.kontan.co.id, berikut definis para pakar mengenai financial freedom :

  • Direktur Senior Partner OneShildt Financial Planning Budi Raharjo, misalnya, berpendapat, financial freedom adalah kondisi ketika seseorang bisa mencukupi kebutuhan dan gaya hidup tanpa harus bekerja. Orang itu mendapatkan uang dari aset produktif yang bisa memberikan penghasilan rutin. “Merencanakan financial freedom penting karena suatu saat orang bakal kehilangan kemampuan bekerja,” ungkap Budi.
  • Perencana keuangan dari Tatadana Consulting Felicia Imansyah menyodorkan dua syarat seseorang berada dalam kondisi financial freedom. Pertama, senada dengan Budi, seseorang dikatakan bebas secara finansial jika tak lagi mengeluarkan banyak tenaga dan waktu untuk mencukupi kebutuhan. Kebutuhan dipenuhi dari aset yang memberi penghasilan rutin.

Dalam kondisi  yang lebih simple, kondisi finnacial freedom bisa diartikan ketika seseorang/sebuah keluarga tidak terbebani dalam urusan/kebutuhan keuangan. Segala kebutuhan keuangan nya telah terpenuhi, bahkan lebih, sehingga dia bisa mengaloakasikan keuangan nya untuk hal lain diluar dari pemenuhun kebutuhan diri sendiri dan keluarganya, misalnya untuk charity, infaq, shadaqah dll.

Lalu bagaimana pandangan Islam mengenai kondisi financial freedom? saya kemudian mencari cari mengenai tentang bagaimana pandangan Islam tentang hal ini.

Dalam sebuah ulasan, perencana keuangan Islami, Ahmad Gazali, menyatakan bahwa, financial freedom adalah sebuah kondisi dimana seseorang “Menempatkan hartanya di tangannya, bukan di hatinya”.  Saya sangat terkesan dengan pernyataan ini, sesuai dengan sebuah hadist yang berbunyi  “Puaslah dengan apa yang diberikan Allah kepadamu pasti kamu menjadi orang yang paling kaya.” (HR Ahmad, Tirmidzi, dan Al-Baihaqi).

Membaca tentang kisah Nabi Muhammad, yang menjadi tauladan kita dalam semua aspek kehidupan, termasuk aspek financial, kita megetahui bahwa saat menjelang masa kenabian (berumur 38 tahun) di mana waktu beliau  banyak dihabiskan untuk merenung beliau telah sukses menjadi pedagang regional dimana wilayah perdagangannya meliputi Yaman, Suriah, Busra, Iraq, Yordania, Bahrain dan kota-kota perdagangan Jazirah Arab lainnya. Pada tahapan in beliau telah memasuki fase yang menurut Robert T Kiyosaki disebut financial freedom.

Dari hal diatas, maka saya mendapatkan insight, bahwa hal pertama yang harus disadari seorang Muslim adalah, bahwa harta adalah salah satu cara atau “kendaraan” untuk beribadah kepada Allah Swt. Dengan harta yang berkah dan berlimpah tentunya kita akan sangat bisa melakukan banyak kebaikan untuk diri sendiri, keluarga, bahkan orang banyak.

Menjadi kaya harta adalah sebuah kebaikan bagi seorang muslim, dengan harta yang berkah dan berlimpah, ia akan makin bermanfaat bagi banyak orang, menjadi sarana ibadah.

Mewujudkan kondisi financial freedom juga adalah kebaikan dan kondisi ideal, mencontoh Rosul yang telah kaya, sehingga masa hidup beliau diiisi dengan fokus dakwah dan memperhatikan umatnya.

Dan bagi kita yang sudah atau ingin menuju kondisi financial freedom, maka hal yang perlu diingat adalah, meletakan harta kita bukan di hati kita , tapi hanya ditangan kita. Dan niat kita untuk mencapai kondisi financial freedom adalah bukan untuk menumpuk numpuk harta, namun untuk sarana ibadah, menjadikan manusia yang lebih bermanfaat dan mendapatkan Ridha-Nya.

آمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَأَنْفِقُوا مِمَّا جَعَلَكُمْ مُسْتَخْلَفِينَ فِيهِ فَالَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَأَنْفَقُوا لَهُمْ أَجْرٌ كَبِيرٌ

”Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan nafkahkanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya. Maka orang-orang yang beriman diantara kamu dan menafkahkan (sebagian) dari hartanya memperoleh pahala yang besar” [QS. Al-Hadid : 7].

Wallahu A’lam Bissawab

zakat
Advertisements

Silahkan Mengisi Pesan Atau Pertanyaan. Cantumkan No Hp atau Alamat Email Anda Untuk Memudahkan Kami Menghubungi Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s