[INFO PENTING] Biaya Biaya Dalam Asuransi Syariah

Hal yang penting untuk diketahui ketika akan mengikuti asuransi adalah biaya biaya yanga ada di dalamnya. Hal ini penting diketahui apalagi Anda mengambil program asuransi Syariah, karena prinsip nya asuransi syariah harus transparan.

Berikut adalah biaya biaya yang perlu diketahui oleh para nasabah ketika akan mengambil program asuransi. Dalam hal ini yang akan dipaparkan adalah biaya yang ada dalam TAPRO Allianz Syariah.

 

BIAYA AKUISISI DAN PENGELOLAAN

Biaya akuisisi ini meliputi biaya biaya yang berhubungan dengan terbitnya polis nasabah, seperti biaya pemeriksaan kesehatan, pengadaan polis, pencetakan polis, biaya lapangan, biaya telekomunikasi, biaya remunerasi karyawan dan agen.

Biaya akuisisi berhubungan dengan alokasi investasi. Contoh : tahun pertama, biaya akuisisi 75 % berarti alokasi investasi nya 25 %. Tahun ke dua biaya akuisi nya 40 %, berarti alokasi investasinya sebesar 60%, dst seperti dalam tabel.

Perlu dicatat, bahwa alokasi investasi tersebut belum di potong biaya biaya lain yang akan di paparkan di penjelasan berikutnya.

biaya

Setelah tahun ke 6, tidak ada lagi biaya akuisisi yang dibebankan kepada nasabah TAPRO Allianz Syariah

 

BIAYA TABARRU

Biaya tabarru, adalah biaya taawuni atau tolong menolong yang DIAMBIL DARI SALDO INVESTASI. Biaya tabarru di potong tiap bulan, besarannya setiap orang berbeda beda, tergantung usia, besarnya manfaat asuransi, resiko pekerjaan dan juga riwayat kesehatan.

Makin tua usia seseorang, makin besar jumlah uang pertanggungan, makin lengkap manfaat yang diambil, makin beresiko pekerjaan, maka akan lebih tinggi juga biaya tabarru nya.

Apalagi apabila terkena kondisi substandar misalnya dikarenakan misalnya over weight, perokok, kondisi kesehatan, dsb hingga terkena extra premi, maka biaya tabarru nya akan lebih besar. 

Biaya tabarru terus dikenakan setiap bulan, selama polis Anda berjalan, dengan arti lain bahwa selama ada pemotongan dana tabarru -misalnya sedang cuti premi- maka manfaat polis Anda tetap berajalan.

Untuk mengetahui biaya tabarru 2 tahun pertama bisa dilihat di polis , dan untuk tahun selanjutnya akan ada pemberitahuan dari Allianz mengenai berapa biaya asuransi yang dikenakan, atau bisa ditanyakan kepada konsultan penjual asuransi Anda.

 

BIAYA PENGELOALAN INVESTASI 

Dalam mengelola investasi, maka perusahaan mengambil “upah” biaya pengelolaan dana investasi sebesar 2 % per tahun  dari saldo investasi, sebagai ujrah pengelolaan investasi.

 

BIAYA ADMINISTRASI

Untuk adminstrasi dikenakan biaya sebesar Rp 26.500/Bulan, hal ini berhubungan dengan administrasi polis, laporan, dsb.

 

BIAYA BIAYA YANG DIGRATISKAN

Untuk pengambilan dana, penutupan polis tidak dikenakan biaya (Gratis). Untuk pengalihan dana investasi (switching) gratis apabila dilakukan maksimal 4 kali dalam satu tahun.

 


Demikian adalah biaya biaya yang kami sarankan perlu diketahui oleh setiap orang yang hendak berasuransi. Diharapkan baik nasabah atau agen mengetahui biaya biaya yang ada dalam sebuah perjanjian asuransi, agar tidak terjadi kesalah fahaman mengenai saldo investasi yang kecil ketika membeli polis asuransi unit link.

Karena hal yang perlu di luruskan adalah, bahwa tujuan utama dari berasuransi adalah untuk mendapatkan proteksi, tujuan utamanya bukan di investasi.

Semoga Bermanfaat …

 

 

Tanggapan terhadap Pendapat Ustadz Khalid Basalamah tentang Hukum Asuransi dalam Islam

Berikut tulisan dari rekan kami Bapak Asep Sopyan di www.myallisya.com menanggapi pendapat Usstadz Khalid Basalamah mengenai hukum asuransi dalam Islam. Tulisan ini tidak di maksudkan untuk berdebat, pembenaran, atau menyalahi pendapat Ustadz. Kami tetap menghormati dan menghargai pendapat beliau.

Tujuan tulisan ini untuk melengkapi dan meluruskan pendapat mengenai seluk beluk asuransi syariah yang masih belum banyak di ketahui banyak orang. Dan semoga bisa menjadi acuan kita dalam menentukan halal dan haram suatu perkara, tentunya dengan mengetahui ilmunya secara lebih mendalam dan komprehensif. Semoga Bermanfat

Sumber Asli Tulisan : DISINI


Beberapa nasabah saya ada yang menghentikan polis asuransinya karena menganggap asuransi haram. Termasuk asuransi syariah pun dikatakan masih haram atau setidaknya diragukan kehalalannya. Salah satu di antara nasabah saya mengirimkan tautan video dari youtube berisi ceramah Ustadz Khalid Basalamah yang menjawab pertanyaan seorang jemaah tentang hukum asuransi dalam KPR.

Ceramah sang Ustadz bisa didengarkan di video Youtube berikut ini.

Transkrip Ceramah

Untuk keperluan bahasa tulisan, saya telah mengedit seperlunya dan membuang bagian ceramah yang tidak berhubungan dengan asuransi. Bagian yang akan saya tanggapi ditandai dengan huruf tebal. 

(Ustadz Khalid membacakan pertanyaan:) “Yang kedua, saya beli rumah dengan sistem KPR dan diwajibkan masuk asuransi. Mohon penjelasannya.”

Saya sudah jelaskan berulang kali, mohon maaf, tapi saya akan terangkan lagi. Dalam Islam tidak ada namanya asuransi sebenarnya. Apa itu asuransi? Menjamin sesuatu yang belum jelas bagi seseorang. Kalau anda tabrakan, kalau anda mati, kalau anda sakit dirawat di rumah sakit, tidak ada kejelasan. Enggak dibutuhin.

Lembaga asuransi yang ada sekarang itu mengiminig-imingkan seseorang untuk bergabung tentang hal yang tidak terjadi. Kalau anda sakit nanti dirawat sekian hari gratis. Itu kalau sakit. Kalau gak sakit? Kalau tabrakan, kalau badai, kalau gempa, kalau kalau. Dalam Islam tidak boleh ini. Tidak boleh menjanjikan sesuatu atau menganggap seseorang akan terjadi ini maka harus bayar sekian untuk itu. Ini di satu sisi. Jadi tidak boleh ada iming-iming seperti ini.

Dan hasil survei lapangan, orang yang memakai asuransinya dengan yang tidak memakainya, yang tidak memakai itu 75% ke atas. Ada orang sudah bayar 5 tahun, tidak pernah masuk rumah sakit. Jadi orang yang menggunakan dan kena iming-iming itu pun kecil sekali.

Sisi yang lain, asuransi ini masuk jelas dalam satu bab yang dilarang oleh Nabi SAW. Dalam hadis Bukhari dikatakan, Rasulullah Saw melarang mutlak transaksi gharar. Apa itu gharar? Merugikan salah satu pihak atau transaksi yang tidak jelas produknya, waktunya, tempatnya, jenis produknya, harganya. Ini gharar namanya. Tidak boleh itu.

Kasus gini misal. Kalau kita tidak menggunakan premi satu tahun, anggap 100 ribu, nanti kalau masuk rumah sakit akan ditanggung 5 juta. Bagaimana caranya kita mempertemukan premi 100 ribu dengan pembayaran rumah sakit yang 5 juta? Gharar ini. Kita bayar 100 ribu, kita dibayar 5 juta. Dan sebaliknya, kalau kita gak pake, hangus, sudah dianggap selesai, diambil oleh asuransi.

Orang yang kena dijanjikan atau diiming-imingi oleh asuransi itu sebetulnya kecil sekali. Makanya perusahaan asuransi itu berlomba-lomba karena keuntungannya luar biasa. Karena orang yang pakai pun sedikit sekali.

Kalaupun seseorang itu mati, target di asuransi itu orang mati itu kalau semenjak dia mendaftar misalnya umurnya masih 25 tahun, target asuransi itu masih 50 tahun loh. Dia targetnya itu orang meninggal di umur 75 tahun. Kalau pun ada orang meninggal di bawah itu, jarang. Paketnya dia begitu. Masih ada sekitar 50 tahun, 30 tahun. Selama 30 tahun tahun antum dikumpul uangnya, dengan uang nanti dikasih premi kalau kematian, gak balance itu.

Kalau antum sakit, ya pada saat antum sakit. Antum ikhtiar insya Allah akan ada. Boleh antum nabung, cadangan nanti kalau saya sakit akan ada, itu lebih baik.Karena jelas tidak ada gharar, tabungan antum sendiri. Antum butuh antum pake. Selesai. Karena gharar itu diharamkan dalam Islam, tidak boleh.

Dalam Islam itu kemarin saya jelaskan waktu kita jelaskan masalah tidak boleh mencurangi timbangan, ada beberapa konsekuensi hukum dalam ekonomi Islam. Tidak boleh ada kebohongan, tidak boleh ada kezaliman, tidak boleh ada gharar, tidak boleh ada manipulasi, semua harus transparan, semua harus ada kejelasan. Ini syarat-syarat dan rukun-rukun ekonomi dalam Islam. Jadi saya tidak pernah menemukan ada sisi dibolehkannya asuransi dalam Islam kalau sistemnya seperti yang ada sekarang.

Saya masukkan mobil saya asuransi all risk. Saya bayar 5 juta, selesai. Tabrakan, hilang, kena gempa, asuransi yang tanggung. Gharar akhi. Antum bayar 5 juta, hilang mobilnya, nilai mobil 200 juta, asuransi bayar 75% dari situ, anggaplah antum dapat 175 juta. Padahal antum cuma bayar 5 juta. Dari mana ini? Gharar ini. Ini sama dengan riba. Kita bayar sekian, kita dapat sekian. Dan iming-imingnya tadi, kalau hilang.

Banyak terjadi kasus di lapangan, orang sengaja menghilangkan mobilnya. Parkir sembarangan, sengaja gak dikunci hilang, lalu tuntut asuransi. Mobilnya kan sudah berjalan beberapa tahun. Setiap tahun dia kasih 5 juta untuk all risk, 5 tahun dia ikut berarti 25 juta dia keluar. Mobilnya pada saat dia beli 250 juta, 5 tahun kemudian sudah turun 40%. Asuransi siap mengganti 75%. Gharar. Manipulasi. Kezaliman. Bertumpuk-tumpuk semua ini. Dari mana ini? Gak bisa. Dalam Islam tidak boleh itu. Jelas tidak boleh. Makanya kita harus lebih jernih berpikir.

Sekarang yang jadi masalah, semoga Allah angkat, di negara kita ini asuransi sudah masuk ke semua lembaga, masuk ke pemerintahan kita. Masalah riba ini dengan unsur asuransi yang masuk gharar ini sudah melilit kita, seperti gak bisa lepas. Subhanallah.

Lalu bagaimana bentuk asuransi sebenarnya, kalaupun ada kita paksakan kalimat ini? Sebagian ulama menulis namanya syarikatut-ta’min. Tidak boleh ada gharar, kezaliman, riba, manipulasi, semua ada kejelasan.

Kalau saya punya perusahaan asuransi, lalu misalnya anda ikut asuransi mobil ke saya premi 5 juta dibayar per tahun all risk. Misalnya mobil anda tabrakan kena biaya 3 juta, anda lapor kepada saya, Pak mobil saya tabrakan. Lalu kata saya, baik bawa mobil anda ke bengkel A. ini bengkel berkualitas.

Anda datang ke sana, dinilai biayanya sekitar 3 juta. Asuransi harus bertanya ke orang yang punya duit, mau gak biaya 3 juta ini. O mau. Konsekuensinya apa, nanti akan dikasih bagus. Ini jaminan.

Nanti dibuatkan kuitansi bahwa dari 5 juta uang dia, sudah dipakai 3 juta. Sisa 2 juta kalau tiga bulan lagi tabrakan lagi dan kena lagi 3 juta, anda punya kewajiban membayar 1 juta tambahan.

Mungkin anda tanya ke saya, lalu apa keuntungannya saya ikut asuransi?Keuntungannya karena anda ditunjukkan bengkel yang bagus dan berkualitas. Asuransi untung dari mana? Dapat diskon dari bengkel karena dapat nasabah. Ini yang boleh secara syar’i. Gak ada masalah. Tidak ada kezaliman, tidak ada manipulasi, tidak ada gharar, tidak ada merugikan salah satu pihak. Ini yang boleh, wallahu a’lam.

Bagaimana seandainya sudah terlanjur diwajibkan? Misalnya KPR, karena sudah terlanjur ikut KPR dan diwajibkan ikut asuransi? Saran saya, wallahu a’lam, kita berlepas diri dari situ. Kalau sudah terlanjur ada riba, maka kalau kita punya kemampuan untuk melunasi, lunasi. Kalau tidak, jalankan yang ada sambil istigfar kepada Allah dan jangan buka pintu baru lagi.  []

 

TANGGAPAN

Setelah mendengarkan dengan cermat sambil menyalinnya ke bentuk tulisan, saya mendapat kesan yang kuat bahwa Ustadz Khalid Basalamah mengeluarkan pendapat tentang asuransi tanpa mempelajari terlebih dahulu seluk-beluk asuransi secara mendalam.

Ustadz Khalid Basalamah adalah seorang alim atau terpelajar di bidang agama Islam. S1-nya dari Universitas Islam Madinah, S2 di Universitas Muslim Indonesia, dan S3 di Universitas Tun Abdul Razzaq Malaysia. Tentu keilmuannya di bidang agama Islam tidak diragukan lagi. (Profil selengkapnya di SINI.)

Tapi ketika beliau berpendapat tentang asuransi tanpa mendalaminya lebih dahulu, saya menganggap pendapatnya tersebut tak beda dengan ucapan orang awam.

Memang materi yang saya tanggapi ini hanya berupa ceramah singkat, dan sebetulnya lebih merupakan jawaban spontan atas pertanyaan seorang jemaah. Jika ada pendapat sang Ustadz tentang asuransi dalam bentuk artikel atau buku, yang tentu telah melalui pemikiran dan penelaahan, itu lebih baik lagi.

Berikut adalah poin-poin penting yang coba saya tanggapi dari ceramah Ustadz Khalid Basalamah.

 

Alasan Diharamkannya Asuransi

Mengapa asuransi diharamkan? Menurut Ustadz Khalid seperti dalam ceramah di atas, alasannya adalah:

  1. Dalam Islam tidak ada yang namanya asuransi.
  2. Asuransi itu tidak dibutuhkan.
  3. Tidak boleh mengiming-imingkan sesuatu yang belum terjadi.
  4. Asuransi itu gharar, manipulasi, kezaliman.
  5. Asuransi itu riba.

Tanggapan saya:

  1. Dalam Islam memang tidak ada yang namanya asuransi, tapi tidak ada belum tentu haram. Asuransi itu perihal muamalah, di mana kaidah fikih mualamah adalah boleh selama tidak ada larangannya.
  2. Asuransi tidak dibutuhkan, memang betul, tapi hanya bagi orang yang sehat dan baik-baik saja. Jika sakit, kecelakaan, tabrakan, atau meninggal, siapa pun pasti butuh uang. Dan asuransi menyediakan uang dalam waktu singkat. Sayangnya, asuransi hanya bisa diambil di waktu sehat.
  3. Asuransi dikatakan mengiming-imingkan sesuatu yang belum terjadi. Ini pemahaman yang dangkal dan tidak sesuai dengan apa yang dipahami para pakar asuransi itu sendiri. Hakikat asuransi adalah proteksi keuangan dari risiko yang mungkin terjadi.Risikonya memang belum tentu terjadi, tapi jika terjadi pasti butuh uang, dan asuransi menyediakan uang tersebut.
  4. Asuransi mengandung gharar, manipulasi, kezaliman. Asuransi konvensional mungkin masih mengandung gharar dan semacamnya, tapi unsur ini sudah dihapuskan dalam asuransi syariah.
  5. Asuransi mengandung riba. Asuransi konvensional memang masih mengandung riba, tapi unsur ini sudah dihapuskan dalam asuransi syariah. Tentang asuransi syariah ini sama sekali tidak disinggung oleh Ustadz Khalid Basalamah dalam ceramahnya, entah beliau sudah mempelajarinya atau belum.

 

Asuransi Tidak Dibutuhkan

Salah satu sebab, dan mungkin sebab utama, mengapa masih ada kalangan agamawan yang menolak asuransi, ialah karena mereka menganggap asuransi itu tidak dibutuhkan. Seandainya mereka menyadari bahwa asuransi itu kebutuhan, tentu bukan saja mereka tidak akan mengharamkan, tapi akan mengupayakan berbagai dalil dan argumen untuk membolehkannya. Sebab Tuhan tidak mungkin mengharamkan sesuatu yang merupakan kebutuhan manusia. Kebutuhan itu wajib dipenuhi; jika tidak, manusia akan mengalami suatu kekurangan.

Pertanyaannya, mengapa mereka tidak merasakan kebutuhan akan adanya asuransi? Kemungkinan besar karena mereka belum tahu, belum kenal, belum paham, dan belum mempelajari tentang asuransi. Sebab, di sisi lain, para ulama yang telah mengenal dan mempelajari asuransi, mereka setuju bahwa asuransi itu kebutuhan. Kalaupun asuransi yang beredar sekarang masih belum sesuai syariat, Allah pasti telah menyediakan penggantinya yang lebih baik. Oleh karena itu, mereka mengupayakan suatu ijtihad untuk mengadakan bentuk asuransi yang sesuai ketentuan syariat, seperti yang dilakukan para ulama di Dewan Syariah Nasional MUI. Hasilnya adalah asuransi syariah.

Bagaimana memahami bahwa asuransi itu kebutuhan?

Sesekali cobalah jalan-jalan ke rumah sakit. Di sana banyak orang sakit. Di antara mereka pasti ada pasien yang pakai asuransi dan ada yang pakai uang sendiri. Masuklah ke bagian orang-orang yang dirawat inap atau pasien yang sakit berat. Tanyakan kepada si sakit maupun keluarganya, masalah apa yang paling banyak mereka bicarakan pada hari-hari itu: perihnya rasa sakit atau besarnya biaya sakit? Jawabannya kemungkinan besar akan berbeda antara pasien yang memiliki asuransi kesehatan dan yang tidak.

Gharar dalam Asuransi

Dalam contoh yang dikemukakan tentang premi 100 ribu dan manfaat rumah sakit 5 juta, Ustadz Khalid Basalamah mempertanyakan, “Bagaimana caranya kita mempertemukan premi 100 ribu dengan pembayaran rumah sakit yang 5 juta? Gharar ini.”

Jika kita bicara asuransi konvensional, para ulama menganggap sumber dana pembayaran klaim yang 5 juta itu memang gharar alias tidak jelas. Tentu saja kita semua tahu uang klaim 5 juta itu dari rekening perusahaan asuransi, tapi pertanyaannya: dari mana perusahaan asuransi bisa membayar 5 juta kepada seorang nasabah, padahal nasabah tersebut baru membayar 100 ribu?

Nah, dalam asuransi syariah, persoalan gharar ini terpecahkan dengan sendirinya. Di asuransi syariah pun sama, misalnya premi 100 ribu setahun, bisa memperoleh manfaat pembayaran rumah sakit 5 juta. Pertanyaannya, dari mana uang 5 juta itu? Tidak lain ialah dari para nasabah sendiri. Premi para nasabah dikumpulkan dalam rekening bersama yang disebut rekening dana tabarru. Tujuan dari dana bersama ini adalah untuk menolong para peserta jika di antara mereka ada yang mengalami musibah. Rekening ini milik para peserta, sedangkan perusahaan asuransi hanya sebagai pengelola yang menerima upah atau uang jasa.

 

Riba dalam Asuransi

Satu hal yang disinggung Ustadz Khalid Basalamah adalah tentang riba. Premi 100 ribu, mendapat pembayaran klaim 5 juta. Itu riba karena ada kelebihannya.

Jika kita bicara asuransi konvensional, para ulama setuju bahwa kelebihan tersebut memang riba. Tapi dalam konsep asuransi syariah, riba sudah dihilangkan. Bagaimana caranya? Melalui akad hibah (tabarru) atau tolong-menolong (ta’awun). Setiap peserta yang menyetor premi, dia sudah mengikhlaskan dananya untuk menolong para peserta lain. Jika dia tidak melakukan klaim, berarti seluruh premi yang masuk ke dana tabarru sudah dihibahkan. Jika dia melakukan klaim dan jumlahnya lebih besar dari yang dia setorkan, berarti saat itu dia tengah menerima pertolongan dari para peserta lain, yang juga melakukan akad yang sama seperti dirinya.

Dalam akad hibah, kelebihan yang kita terima bukanlah riba. Sebagai contoh, jika kita mengadakan reuni dengan teman-teman sekolah kita, dan untuk konsumsinya memakai sistem potluck (setiap orang membawa makanan sendiri-sendiri, tapi nanti seluruh makanan dikumpulkan untuk dimakan bersama-sama), dalam contoh ini pastilah ada peserta yang memakan makanan lebih banyak daripada yang dia bawa, dan sebaliknya pasti ada peserta yang memakan makanan kurang daripada yang dia bawa. Kelebihan ataupun kekurangan dalam contoh ini bukanlah riba, karena setiap peserta telah mengikhlaskan makanan yang dibawanya untuk dimakan para peserta reuni yang lain.

Dengan kata lain, akad hibah menghapus riba pada transaksi pertukaran uang ataupun barang.

 

Survei Lapangan 75% Nasabah Tidak Klaim Asuransi

Ustadz Khalid Basalamah menyebut bahwa menurut survei lapangan, dari sekian orang yang memiliki asuransi, yang tidak memakai asuransinya di atas 75%. Entah ini survei dilakukan oleh sang Ustadz sendiri atau beliau kutip entah dari sumber apa, tidak disebutkan. Saya tidak akan menanggapi fakta yang belum jelas.

 

Asuransi Menargetkan Orang Meninggal di Umur 75 Tahun

Ustadz Khalid Basalamah mengatakan bahwa jika seseorang masuk asuransi jiwa di usia 25 tahun, target asuransi masih 50 tahun lagi baru orang itu akan meninggal. Artinya, asuransi menargetkan para nasabahnya meninggal di usia 75 tahun, sedangkan orang yang meninggal di bawah itu jarang.

Saya hanya bisa berkata bahwa ini pernyataan yang janggal dan aneh sekali, dan tidak dikenal di buku-buku teks tentang asuransi.

Tentang kapan waktu kematian para nasabahnya, pihak asuransi sama sekali tidak pernah menargetkan atau mengira-ngira. Dalam menetapkan premi, aktuaris berpatokan pada tabel mortalita atau statistik kematian di suatu wilayah.

Lagi pula yang namanya kematian, tidak ada siapa pun yang bisa memperkirakan atau menargetkan. Entah dari mana sang Ustadz menyebut angka 75 tahun. Boleh jadi itu usia harapan hidup, tapi pada kenyataannya orang bisa meninggal di usia berapa saja tanpa pandang tua-muda.

 

Menabung Bisa Menggantikan Asuransi

Mengutip kata-kata sang Ustadz, “Boleh antum nabung, cadangan nanti kalau saya sakit akan ada, itu lebih baik. Karena jelas tidak ada gharar, tabungan antum sendiri. Antum butuh antum pake. Selesai.”

Ini juga pendapat yang awam sekali. Anggaplah kita menabung secara rutin dengan tujuan untuk antisipasi jika sakit. Yang menjadi pertanyaan:

  1. Tahukah kita kapan sakit?
  2. Tahukah kita jika sakit akan kena sakit apa?
  3. Tahukah kita jika kena sakit biayanya berapa?
  4. Bagaimana jika kita sakit saat tabungan kita belum mencukupi?

Orang yang rendah hati akan menjawab pertanyaan 1 sd 3 dengan jawaban “tidak”. Dan untuk pertanyaan nomor 4, mereka berikhtiar melalui asuransi.

Penyalahgunaan Asuransi

Seperti banyak hal lainnya, asuransi pun bisa disalahgunakan. Ustadz Khalid Basalamah mencontohkan, katanya, “Banyak terjadi kasus di lapangan, orang sengaja menghilangkan mobilnya. Parkir sembarangan, sengaja gak dikunci hilang, lalu tuntut asuransi.”

Tanggapan saya: yang seperti ini dalam teori asuransi pun dilarang. Jika ketahuan ada klaim yang direkayasa, pihak perusahaan asuransi boleh tidak membayar klaim.

Jadi bukan hanya ajaran Islam yang melarang penyalahgunaan, manipulasi, atau rekayasa untuk tujuan yang tidak benar. Konsep asuransi itu sendiri pun melarangnya.

Contoh lain yang pernah saya baca (di SINI), di negeri Arab Saudi sana banyak orang yang asal-asalan dalam berkendaraan karena kalaupun nabrak telah ada asuransinya. Saya katakan, baiklah ini dianggap efek negatif dari asuransi. Tapi sebetulnya jika orang ikut asuransi secara benar, justru dia akan lebih hati-hati dan lebih patuh pada aturan berlalu lintas. Mengapa? Karena orang yang mengalami kecelakaan dalam keadaan melanggar lalu lintas (contoh: menerobos lampu merah, melawan arus, tidak pakai helm, bahkan tidak membawa SIM), klaim asuransinya bisa tidak dibayar.

Contoh Asuransi Yang Dibolehkan menurut Ustadz Khalid Basalamah

Seperti dicontohkan dalam ceramah di atas, misalnya asuransi mobil dengan premi 5 juta setahun. Ketika terjadi kerusakan mobil, maka biaya yang diganti pihak asuransi adalah maksimal 5 juta juga. Apa keuntungan bagi nasabah? Ditunjukkan bengkel yang bagus. Apa keuntungan bagi asuransi? Mendapat diskon dari bengkel.

Ini contoh yang sangat lucu dan menunjukkan pemahaman yang dangkal tentang asuransi.

Kalau seperti itu, apa gunanya kita ikut asuransi? Lebih baik uangnya kita simpan sendiri, dan bengkel yang bagus bisa kita cari sendiri.

 

Demikian tanggapan saya. Mohon maaf jika ada kata-kata yang menyinggung sang Ustadz ataupun pengikutnya.

Poin pokok saya adalah: jika hendak berpendapat tentang sesuatu, pelajarilah sesuatu itu terlebih dahulu. Semoga kita semua senantiasa mendapat petunjuk dari Allah. Amin. []

Mengupas Tentang Asuransi Syariah Oleh Ustadz Setiawan Budi Utomo (Bagian 2)

Berikut adalah pemaparan Ustadz Setiawan Budi Utomo, Seorang Anggota Dewan Syariah Nasional dan Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI), Dewan Syuro Ikatan Dai Indonesia (IKADI), Dewan Penguji Ujian Sertifikasi Akuntansi Syariah, dsb. PROFIL LENGKAP DISINI

Dalam tulisan nya kali ini membahas mengenai seluk beluk asuransi syariah, dimulai dari status kehalalannya, prinsip prinsip dasar nya, bagaimana oprasionalnya dan bagaimana kebermanfaatannya.

Semoga bisa menjadi acuan dalam mengambil keputusan mengenai keyakianan mengenai halal-haram nya asuransi syariah, semoga bermanfaat


ustadz setiawan budi utomo

 

PRINSIP DALAM ASURANSI SYARIAH

Prinsip utama dalam perasuransian syariah adalah ta’awanu ‘alal birri wa al-taqwa (tolong-menolonglah kamu sekalian dalam kebaikan dan takwa) dan al-takmin (rasa aman). Prinsip ini menjadikan para anggota atau peserta asuransi sebagai sebuah keluarga besar yang satu dengan lainnya saling menjamin dan menanggung risiko.

Hal ini disebabkan transaksi yang dibuat dalam asuransi takaful adalah akad takafuli (saling menanggung), bukan akad tabaduli (saling menukar) yang selama ini digunakan oleh asuransi konvensional, yaitu pertukaran pembayaran premi dengan uang pertanggungan.

Para ulama dan ahli ekonomi Islam mengemukakan bahwa asuransi syariah atau asuransi takaful ditegakkan atas tiga prinsip utama, yaitu:

1. Saling bertanggung jawab, yang berarti para peserta asuransi takaful memiliki rasa tanggung jawab bersama untuk membantu dan menolong peserta lain yang mengalami musibah atau kerugian dengan niat ikhlas, karena memikul tanggung jawab dengan niat ikhlas adalah ibadah. Hal ini dapat diperhatikan dari hadits-hadits Nabi saw. berikut:

”Kedudukan hubungan persaudaraan dan perasaan orang-orang beriman antara satu dengan lain seperti satu tubuh (jasad) apabila satu dari anggotanya tidak sehat, maka akan berpengaruh kepada seluruh tubuh” (HR. Bukhari dan Muslim).

Seorang mukmin dengan mukmin yang lain (dalam suatu masyarakat) seperti sebuah bangunan di mana tiap-tiap bagian dalam bangunan itu mengukuhkan bagian-bagian yang lain”(HR. Bu­khari dan Muslim).

Setiap kamu adalah pemikul tanggung jawab dan setiap kamu bertanggung jawab terhadap orang-orang yang di bawah tanggung jawabmu” (HR. Bukhari dan Muslim).

”Seseorang tidak dianggap beriman sehingga ia mengasihi saudaranya sebagaimana ia mengasihi dirinya sendiri” (HR. Bukhari).

Barang siapa yang tidak dianggap beriman sehingga ia mengasihi saudaranya sebagaimana ia mengasihi dirinya sendiri” (HR. Bukhari).

Rasa tanggung jawab terhadap sesama merupakan kewajiban setiap muslim. Rasa tanggung jawab ini tentu lahir dari sifat saling menyayangi, mencintai, saling membantu dan merasa mementingkan kebersamaan untuk mendapatkan kemakmuran bersama dalam mewujudkan masyarakat yang beriman, takwa dan harmonis.

Dengan prinsip ini, maka asuransi takaful merealisir perintah Allah SWT dalam Al-Qur’an dan Rasulullah SAW dalam al-Sunnah tentang kewajiban untuk tidak memerhatikan kepentingan diri sen­diri semata tetapi juga mesti mementingkan orang lain atau masyarakat.
2. Saling bekerja sama atau saling membantu, yang berarti di antara peserta asuransi takaful yang satu dengan lainnya saling bekerja sama dan saling tolong-menolong dalam mengatasi kesulitan yang dialami karena sebab musibah yang diderita.

Sebagaimana firman Allah dalam QS. al-Maidah ay at 2 yang artinya “Bekerjasamalah kamu pada perkara-perkara kebajikan dan takwa, dan jangan bekerja sama dalam perkara-perkara dosa dan permusuhan.”

Hadits juga membicarakan perkara seperti ini, di antaranya yaitu:

“Barang siapa yang memenuhi hajat (kebutuhan) saudaranya, Allah akan memenuhi hajatnya” (HR Bukhari, Muslim dan Abu Daud).

“Allah senantiasa menolong hamba selagi hamba itu menolong saudaranya” (HR. Ahmad dan Abu Daud).

Dengan prinsip ini maka asuransi takaful merealisir perintah Allah SWT dalam Al-Qur’an dan Rasulullah SAW dalam al-Sunnah tentang kewajiban hidup bersama dan saling menolong di antara sesama umat manusia.

  1. Saling melindungi penderitaan satu sama lain, yang berarti bahwa para peserta asuransi takaful akan berperan sebagai pelindung bagi peserta lain yang mengalami gangguan keselamatan berupa musibah yang dideritanya.

Sebagaimana firman Allah dalam QS. Quraisy ayat 4 yang artinya:“(Allah) yang telah menyediakan makanan untuk menghilangkan bahaya kelaparan dan menyelamatkan/ mengamankan mereka dari mara bahaya ketakutan.”

Hadits Nabi saw. “Sesungguhnya seseorang yang beriman ialah siapa yang dapat memberi keselamatan dan perlindungan terhadap harta dan jiwa raga umat manusia.” (HR. Ibnu Majah)

Dengan begitu maka asuransi takaful merealisir perintah Allah dalam Al-Qur’an dan Rasulullah SAW dalam al-Sunnah tentang kewajiban saling melindungi di antara sesama warga masyarakat.

Karnaen A. Perwataatmadja mengemukakan prinsip-prinsip asu­ransi takaful yang sama, namun beliau menambahkan satu prinsip dari prinsip yang telah ada yakni prinsip menghindari unsur-unsur gharar, maisir dan riba. Sehingga terdapat 4 prinsip asuransi syariah yakni:

  1. Saling bertanggung jawab;

  2. Saling bekerja sama atau saling membantu

  3. Saling melindungi penderitaan satu sama lain; dan

  4. Menghindari unsur gharar, maisir dan riba.

 

INDIKATOR ASURANSI SESUAI SYARIAH

Beberapa indikator dan kriteria yang menentukan usaha asuransi sesuai syariah atau tidak, yaitu harus dipastikan terhindar dari unsur gharar, maisir dan riba.

1. GHARAR  atau KETIDAKPASTIAN, ada dua bentuk :

a. Bentuk akad syariah yang melandasi penutupan polis. Secara konvensional, kontrak atau perjanjian dalam asuransi jiwa dapat dikategorikan sebagai akad tabaduli atau akad pertukaran yaitu pertukaran pembayaran premi dengan uang pertanggungan.

Secara harfiah dalam akad pertukaran harus jelas berapa yang dibayarkan dan berapa yang diterima. Keadaan ini menjadi rancu (gharar) karena kita tahu berapa yang akan diterima (sejumlah uang pertanggungan), tetapi tidak tahu berapa yang akan dibayarkan (sejumlah seluruh premi) karena hanya Allah yang tahu kapan seseorang akan meninggal.

Dalam konsep syariah keadaan ini akan lain karena akad yang digunakan adalah akad takafuli atau tolong-menolong dan saling menjamin di mana semua peserta asuransi menjadi penolong/ penjamin satu sama lainnya.

b. Sumber dana pembayaran klaim dan keabsahan syar’i penerima uang klaim itu sendiri. Dalam konsep asuransi konvensional, peserta tidak mengetahui dari mana dana pertanggungan yang diberikan perusahaan asuransi berasal.

Peserta hanya tahu jumlah pembayaran klaim yang akan diterimanya. Dalam konsep takaful, setiap pembayaran premi sejak awal akan dibagi dua, masuk ke rekening pemegang polis dan satu lagi dimasukkan ke rekening khusus peserta yang harus diniatkan tabarru’ atau derma untuk membantu saudaranya yang lain.

Dengan kata lain, dana klaim dalam konsep takaful diambil dari dana tabarru yang merupakan kumpulan dana shadaqah dari para peserta.

2. MAISIR (gambling/untung-untungan) artinya ada salah satu pihak yang untung namun di lain pihak justru mengalami kerugian. Unsur ini dalam asuransi konvensional terlihat apabila selama masa perjanjian peserta tidak mengalami musibah atau kecelakaan, maka peserta tidak berhak mendapatkan apa-apa termasuk premi yang disetornya.

Sedangkan, keuntungan diperoleh ketika peserta yang belum lama menjadi anggota (jumlah premi yang disetor sedikit) menerima dana pembayaran klaim yang jauh lebih besar. Dalam konsep takaful, apabila peserta tidak mengalami kecelakaan atau musibah selama menjadi peserta, maka ia tetap berhak mendapatkan premi yang disetor KECUALI DANA YANG TELAH DIMASUKAN DALAM DANA TABARRU’.

3. RIBA. Unsur riba tercermin dalam cara perusahaan asuransi konven­sional melakukan usaha dan investasi di mana meminjamkan dana premi yang terkumpul atas dasar bunga. Dalam konsep takaful dana premi yang terkumpul diinvestasikan dengan prinsip bagi hasil yaitu mudharabah atau musyarakah.

 

FATWA MUI 

Fatwa tentang bunga adalah riba bukanlah wacana baru bagi umat Islam, karena sebelumnya MUI telah beberapa kali mencetuskan wacana tersebut. Fatwa yang pertama dikeluarkan pada tahun 1990 yang diikuti dengan berdirinya bank syariah pertama yaitu Bank Muamalat Indonesia, dan yang kedua pada tahun 2000 di mana Dewan Syariah Nasional mengeluarkan fatwa bahwa penerapan suku bunga bertentangan dengan syariah Islam [10]. Hal ini kemudian diikuti dengan Fatwa Dewan Syariah Nasional No. 21/DSN-MUI/X/2001 tentang Pedoman Umum Asuransi Syariah.

 

PERBEDAAN ASURANSI SYARIAH DAN KONVENSIONAL

Dibandingkan asuransi konvensional, asuransi syariah memiliki perbedaan mendasar dalam beberapa hal di antaranya adalah :

1. Keberadaan Dewan Pengawas Syariah dalam perusahaan asuransi syariah merupakan suatu keharusan. Dewan ini berperan dalam mengawasi manajemen, produk serta kebijakan investasi supaya senantiasa sejalan dengan syariat Islam.

2. Prinsip akad asuransi syariah adalah takafuli (tolong-menolong). Yaitu nasabah yang satu menolong nasabah yang tengah mengalami kesulitan. Sedangkan akad asuransi konvensional bersifat tabaduli (jual beli antara nasabah dengan perusahaan).

3. Dana yang terkumpul dari nasabah perusahaan asuransi syariah (premi) diinvestasikan berdasarkan syariah dengan sistem bagi hasil (mudharabah). Sedangkan pada asuransi konvensional investasi dana premi dilakukan pada sembarang sektor, baik yang halal maupun yang haram dengan sistem bunga.

4. Premi yang terkumpul diperlakukan tetap sebagai dana nasabah. Perusahaan hanya sebagai pemegang amanah mengelolanya. Sedangkan pada asuransi konvensional, menjadi milik perusahaan dan perusahaanlah yang memegang otoritas penuh untuk menetapkan kebijakan pengelolaan dana tersebut.

5. Untuk kepentingan pembayaran klaim nasabah, dana diambil dari rekening tabarru’ (dana sosial) dari seluruh peserta yang diikhlaskan untuk keperluan tolong-menolong bila ada yang terkena musibah. Sedangkan dalam asuransi konvensional, dana pembayaran klaim diambil dari rekening perusahaan.

6. Keuntungan investasi dibagi dua antara nasabah selaku pemilik dana dengan perusahaan selaku pengelola, dengan prinsip bagi hasil. Sedangkan dalam asuransi konvensional, keuntungan sepenuhnya menjadi milik perusahaan. Jika tak ada klaim nasabah rugi karena tidak memperoleh apa-apa .

MENGENAI DEWAN SYARIAH NASIONAL

Selain itu, Dewan Syariah Nasional (DSN) sebagai bagian dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) bertugas menumbuhkembangkan penerapan nilai-nilai syariah dalam kegiatan perekonomian pada umumnya dan sektor keuangan pada khususnya, termasuk usaha bank, asuransi dan reksadana.

Anggota DSN terdiri dari para ulama, praktisi dan pakar dalam bidang yang terkait dengan perekonomian dan syariah muamalah. Anggota DSN ditunjuk dan diangkat oleh MUI untuk masa bakti 4 tahun.

DSN merupakan satu-satunya badan yang mempunyai kewenangan mengeluarkan fatwa atas jenis kegiatan, produk dan jasa keuangan syariah serta mengawasi penerapan fatwa dimaksud oleh lembaga-lembaga keuangan syariah di Indonesia.

Anggota DPS dalam perusahaan asuransi terdiri dari para pakar di bidang syariah muamalah yang memiliki pengetahuan umum bidang asuransi.

Dalam pelaksanaan tugas sehari-hari, DPS wajib mengikuti fatwa DSN yang merupakan otoritas tertinggi dalam mengeluarkan fatwa mengenai kesesuaian produk asuransi dengan ketentuan dan prinsip syariah. DPS berfungsi mengawasi prinsip operasional yang digunakan, produk asuransi yang ditawarkan, serta investasi yang dilakukan oleh manajemen asuransi.

Pengawasan ini dimaksudkan agar apa yang dilakukan oleh manajemen asuransi itu tidak keluar koridor yang telah ditentukan syariat Islam. Dengan adanya Dewan Pengawas Syariah, asuransi takaful sebagai bentuk asuransi Islam tidak akan keluar dari ajaran Islam yang sebenarnya.

Wallahu a’lam bissawab

Sumber Asli Tulisan disini

MENGUPAS TENTANG ASURANSI SYARIAH OLEH USTADZ SETIAWAN BUDI UTOMO (BAGIAN 1)

Artike Bermanfaat Lainnya : Berasuransi Ada Di Wilayah Ijtihad